Pemuda Syiah Sampang: Menumpang di Sidoarjo, Melanglang di Jember

Pemuda Syiah Sampang: Menumpang di Sidoarjo, Melanglang di Jember

Nur Cholis, salah satu pengungsi di rusunawa Jemundo, berkata, "Kami merasa dianaktirikan. Kalau kami diperlakukan sama di depan hukum, pasti kami saat ini tidak mungkin ada di sini, kami pasti sudah dipulangkan."

Derita di Rusunawa

Rabu, 28 Desember 2016, Romel Masykuri bersama dua temannya, Binaridha Kusuma Ningtyas dan Novita Maulida Ikmal mendatangi tempat pengungsian warga Syiah di Sidoarjo. Tiga mahasiswa Pascasarjana Universitas Airlangga itu hendak menilik kehidupan para interniran setelah tiga tahun lebih diasingkan secara paksa dari Sampang.

Langkah mereka terhenti di hadapan dua gedung yang menjulang tanpa plang nama. Sejauh mata memandang, terlihat dinding tembok bangunan yang sudah mengelupas dengan warna cat tembok biru yang mulai pudar. Bangunan yang lebih dikenal dengan nama Rusunawa Jemundo itu dikelilingi halaman yang cukup luas.


Rusunawa Puspa Agro di Desa Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur, tempat pengungsi Sampang tinggal selama hampir sebelas tahun usai diusir dari kampung halamannya.--Foto: BBC

Memasuki kawasan, aktivitas penghuni terlihat sepi. Terlihat sejumlah perempuan yang sedang mencuci baju dan seorang lelaki yang sedang membangun kandang ayam. Agak masuk ke dalam, beberapa sepeda motor terparkir rapi, di dekatnya terdapat ruangan perpustakaan yang kosong tanpa deretan buku.

Kondisi rusunawa itu tampak sepi, tidak banyak orang lalu lalang di sekitarnya. Bangunan yang terdiri dari lima lantai ini rupanya tidak semua dihuni oleh pengungsi, beberapa warga merupakan penyewa. Banyak genangan air di sana sini. Bau tak sedap menguar dari dalam pengungsian. Entah dari mana asal bau itu muncul.

Di lantai satu rusunawa mereka menjumpai beberapa kandang ayam yang sengaja diternak oleh para pengungsi sebagai tambahan penghasilan. Selain ternak ayam, ada banyak kelapa yang telah dibersihkan dan dijemur di sekitar halaman gedung. Para pengungsi kebanyakan bekerja sebagai pengupas kelapa selama di rusunawa. Warga Syiah mendapatkan pekerjaan tersebut berkat usahanya sendiri, bukan karena difasilitasi oleh pemerintah.

Ketiga mahasiswa itu memperoleh cerita pilu dari Ummi Kulsum, perempuan paruh baya yang mengungsi di rusunawa. Ummi bercerita bagaimana derita yang dialami komunitasnya selama menjadi muhajir. Pada tahun pertama mengungsi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memberikan bantuan berupa beras yang dimasak oleh Tim Taruna Siaga Bencana (TAGANA). Kurang lebih selama satu tahun warga Syiah menerima bantuan nasi tersebut.

Namun, bantuan nasi ini terkadang abai terhadap anak-anak dan balita di mana makanan yang disediakan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi mereka. Bahkan, terkadang kualitas makanan yang diberikan tidak layak. Akibatnya, kurang lebih selama tahun-tahun pertama mengungsi, warga Syiah berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Ummi bilang, beras yang diberikan pemerintah daerah terkadang bau apek dan ada ulatnya.

Ia juga menceritakan tentang bagaimana pengalaman teman-temannya saat hamil dan melahirkan di rusunawa. Para ibu menurutnya lebih memilih melahirkan di dukun anak yang juga jemaah Syiah atau pergi ke bidan terdekat. Mereka enggan ke rumah sakit atau puskesmas. Jika pun ada yang melahirkan di rumah sakit, hal itu dikarenakan sulitnya proses kelahiran.

Menurut Ummi, ibu-ibu tak mau berobat atau melahirkan di rumah sakit karena merasa tidak dihargai sebagai warga negara akibat statusnya sebagai pengungsi.

“Setiap orang sakit tuh, kayaknya gimana mau ke rumah sakit…takutnya digituin. Kita kan manusia, kan punya perasaan juga," keluhnya.

Rohma, seorang perempuan yang pernah menjadi koordinator untuk membantu para pengungsi memperoleh fasilitas kesehatan menceritakan kesulitannya saat awal-awal mendampingi warga Syiah ke rumah sakit.

“Waktu itu kan ditanyain Jamkesmas, terus KK-nya, KTP-nya, akta kelahirannya dari pihak dokter. Saya menjelaskan kalau pengungsi Syiah ini tidak punya KK. Pertamanya itu saya rada kesulitan, saya dimarahin suruh ngurus.”

Selain susahnya memperoleh hak kesehatan, anak-anak di rusunawa juga kehilangan tempat dan teman bermain pasca konflik yang terjadi di Sampang. Mereka merasa tidak nyaman selama tinggal di pengungsian. Di rusunawa tidak ada terlihat fasilitas bermain bagi anak-anak, hanya terdapat halaman kosong yang luas.

Sumber: